Perjalanan di Saribu Rumah Gadang

SOLOK SELATAN. Saribu Rumah Gadang merupakan salah satu ikon Provinsi Sumatera Barat yang berada di Kabupaten Solok Selatan,Sumatera Barat. Kampung adat yang berjarak 150 Km dari ibu kota Padang tersebut menjadi perbincangan di awal tahun 2018.

Bagaimana tidak, Saribu Rumah Gadang yang memiliki ratusan rumah adat khas minangkabau dari berbagai suku ini, mendapatkan penghargaan sebagai kampung adat terpopuler pada Anugerah Pesona Indonesia (API) 2017, yang diselenggarakan di Jakarta.

Baru pertama kali menginjakkan kaki di Ranah Minang ini, rasa ingin tahu saya yang selama ini menyeruak, akhirnya terbayarkan. Dimana, kakaguman saya selama ini terhadap provinsi yang mempunyai ciri khas dengan rumah gadangnya yang bergonjong tersebut, hanya bisa dilihat melalui bentuk visual dua dimensi yakni gambar.

foto by iman Firmansyah

Hingga pada akhirnya, pada Februari 10 lalu, saya berhasil mencapai kampung adat terpopuler pada 2017 tersebut.

Bermodalkan sebuah sepeda motor, saya memberanikan diri menempuh perjalanan panjang menuju kampung tersebut dengan berangkat pukul empat pagi dini hari dari Kota Padang.

Selama tiga jam perjalanan, Suhu dingin yang menusuk hingga ke tulang, menyertai perjalanan panjang saya. Namun, semua itu tidak mengurungkan niat saya untuk menjelajahi daerah tersebut. Dimana, selama perjalanan, saya disuguhi dengan pemandangan alam yang tiada duanya menurut saya.

Sepanjang perjalanan, kebun teh terpampang megah seperti bentangan karpet hijau yang menyejukkan mata untuk dipandang. Dibandingkan dengan Jakarta yang selama ini menjadi tempat bernaung saya sejak enam bulan lalu. Yang hanya disesaki dengan beribu bangunan yang menjulang tinggi, seolah ingin mencapai langit ketujuh. Hamparan danau yang luas turut menjadi menu sarapan pagi yang menemani perjalanan saya.

Sekitar pukul tujuh pagi, tempat yang selama ini saya impikan untuk dijajaki, berada di depan mata. Dengan berbagai bentuk rumah gadang yang jumlahnya tidak bisa saya hitung. Mungkin mencapai seratus lebih. Pohon-pohon hijau menghiasi halaman rumah gadang tersebut.

Sembari berjalan menyusuri jalanan menggunakan motor yang sebelumnya saya sewa seharga Rp.70.000, saya terhenti di sebuah parkiran rumah warga. “Dari mana?,” dengan logat khas minang kata salah satu warga yang menyapa .

Setelah berbincang di dekat rumah gadang gajah maram ibu yang menggunakan pakaian merah muda tersebut menyarankan untuk menyimpan kendaraan roda dua hitam yang saya sewa tersebut.

Ibu yang mempunyai warung oleh-oleh, menunjuk tanganya kearah ke segala arah. memberikan informasi untuk rute berjalan kaki ke berbagai tempat yang ia harus disinggahi. Saya pun mengikuti apa yang diarahkannya.

Sebelum saya berjalan kaki, saya membuka botol berwarna ungu yang berisikan air mineral untuk saya minum dan mempersiapkan kamera untuk mengambil objek aktivitas kawasan kampung adat tersebut menjadi sebuah gambar.

Kaki pun saling bergantian melangkah menyurusi kampung yang berisikan ratusan rumah gadang menebar senyum setiap ada warga penduduk tersebut, tak jarang juga sambil berbincang. Tempat yang saya pertama ambil gambar yaitu rumah gadang yang sudah berusia ratusan tahun ucap warga sekitar yang berada tak jauh saya memotret. Rumah tersebut bernama rumah gadang maram yang terkenal karena menjadi salah satu lokasi pembuatan film layar lebar Dibawah Lindungan Kabah.

Namun, hati mulai resah karena matahari tak kunjung bersinar kuat terhalang awan. Hati yang resah karena takut hujan membasahi ranah minang. Tapi, langkah kaki ini tak berhenti karena sang awan menyelimuti sang fajar.

Langkah kaki mengarah ke sebuah masjid yang bernuansa minang dengan beragam hiasan sebagai tanda bahwa kita sedang berada di kawasan tersebut. Alasan saya menuju kesana karena saya akan memotret dari atas masjid untuk mendapatkan gambar atap-atap rumah gadang yang memiliki ciri khas lancip tersebut.

Lantas saya mencari sang penjaga masjid berwarna hijau muda tersebut karena yang terpandang saat itu hanyalah beberapa anak sedang bermain di halaman tempat ibadah.

Saya pun mendekatkan jarak dengan anak tersebut, langsung saya merendahkan badan sampai dengan sejajar dengan anak kecil itu. lalu saya bertanya dimana saya bisa bertemu sang penjaga surau?.

Tak lama, sang penjaga surau berpakaian putih dan celana berwarna hitam tiba, saya pun menghampiri lelaki yang memakai peci putih lalu mengulurkan tangan, sang penjaga masjid pun menyambut uluran tangan saya. Setelah itu saya memperkenalkan diri dan meminta ijin untuk pergi ke atas puncak masjid untuk mengambil gambar.

Tangan sang penjaga masjid tersebut, mengarahkan menuju pintu yang senada dengan warna masjid. Tidak jauh disana terdapat tangga sempit yang menempel ke dinding. langkah kedua kaki berjalan menaiki tangga yang dituntun oleh cahaya dari jendela di puncak masjid.

Setiba dipuncak masjid, pandangan mata melihat ada 8 jendela yang mengelilingi puncak tersebut. namun imaji saya berbeda dengan kenyataan, dimana yang terlintas didalam pikiran saya dapat memandang deretan rumah gadang. pada kenyataanya yang terlihat hanya sebagian kecil rumah adat tersebut.

Meskipun demikian saya pun memutuskan untuk menekan rana untuk mengambil gambar dari tempat tersebut dengan waktu tidak lama. setelah merasa cukup langsung turun kembali dengan cepat dengan melihat jam tangan yang saya kenakan waktu semakin menuju siang.

Tiba dibawah hati dan bibir pun berubah menjadi sebuah senyum karena sang mentari memberi harapan dengan menampakan dirinya menghangati ranah minang.

Perjalanan kembali dilanjutkan dengan berjalan mengelilingi kampung dengan ratusan rumah gadang. akhirnya disekian kaki saya melangkah, tiba di surau yang sudah berusia ratusan tahun, terlihat didepan surau bertuliskan Surau Menara.

Warga yang tinggal dikawasan tersebut berkata tempat ibadah ini menjadi sajian panorama Saribu Rumah Gadang. Surau denga menara di tengah ini di jaga oleh sang lelaki paruh baya. sesambil melangkahkan kaki beliau berkata bahwa dirinya menjadi generasi ketiga penjaga surau menara.

Dalam perbincangan, Saya pun meminta ijin untuk mengambil gambar diatas menara tersebut. ijin saya kantongi pria berpeci ini mengarhkan tanganya menuju tangga. langkah kaki menuntun menuju puncak. Setibanya, memang benar tempat tersebut tempat dimana kedua mata kita dapat melihat atap-atap rumah Minangkabau yang dikelilingi bukit-bukit.

Lantas saya langsung mengambil gambar melalui kamera yang saya kenakan dileher saya. namun tidak ak lama saya turun menuruni anak-anak tangga yang mengarahkan kaki untuk turun kebawah. Sang penjaga surau tersebut berucap “Sudah” sambil memberikan selembaran kertas informasi tempat ibadah yang berusia ratusan tahun.Mata pun langsung melirik selebaran kertas fotokopi. dan saya langsung membaca sedikit, hati berucap oh ini informasi sejarah menara surau.

Usai turun tanganpun mulai mengusap muka yang dibasahi oleh keringat. Waktu yang terus berjalan dan mentari semakin tinggi di atas. saya berpamitan dan memgucapkan terima kasih. gerakan saya dipercapat untuk mengambil momen yang terlihat oleh kedua mata, karena waktu yang menujukan semakin siang.

Langkah kaki dan tombol rana saya tekan untuk merekam momen dari aktvitas warga seperti menyapu, warga dengan berlatar rumah gadang,rumah gadang tua, keropos dan tak berpenghuni yang tak luput menjadi arahan untuk menjadi bidikan saya yang menjadi juru foto.

Usai mengelilingi kawasan kampung tersebut saya memutuskan untuk kembali ke tempat dimana saya menitipkan kendaraan roda dua saya. Karena waktu menunjukan pukul sepuluh yang berarti saya harus kembali ke ibu kota Provinsi Sumatera Barat.

Setiba di tempat, dimana motor hitam dititipkan. Saya mengetuk pintu sang pemilik warung oleh-oleh. Tak lupa mengucapkan terima kasih sambil tersenyum dengan lebar sang pemilik tersebut mengucapkan sama-sama dan perempuan tersebut menolak biaya parkir yang saya akan berikan.

Tidak lupa sebelum meninggalkan kampung adat ini saya membeli sebuah buah tangan makanan ringan dari daun singkong dengan tampak seperti keripik tempe bulat .

Hati pun belum puas sebenarnya, berada ditempat yang memiliki ratusan rumah gadang ini namun suara mesin kuda besi harus segera bergemuruh untuk mengantarkan kembali ke kota yang berciri khas rendang.

Pedal sang kuda besi pun di tarik, terdengar suara ngeng-ngeng. Kuda besi pun mengantarkan kembali ke kota Padang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *