Akhirnya Ke Singkawang

Minggu 17/12, saya mengunjungi  Kota Singkawang untuk  memotret   Cap Go Meh.  Event perayaan 15 hari setelah  tahun baru Imlek ini,  Satu  dari 100 kalender pariwisata tahun 2019 Kementrian Pariwisata.

Sejak   menempuh Pendidikan di Perguruan Tinggi, Keinginan untuk  pergi ke kota Singkawang   sudah ada. Melihat dari pemberitaan  di media massa dan cetak,  tentang  Cap Go Meh serta cerita teman  yang berasal dari  Kalimantan Barat saat kuliah dulu.

Februari 2019 akhirnya, saya dapat pergi ke kota yang mendapatkan  kota  1000 Klenteng. Sedikit  cemas sebelum berangkat, karena  sehari sebelum berangkat  ada pesawat tergelincir di Bandara Supadio, Pontianak.

Minggu  Pagi, Saya berangkat  menggunakan  Damri dari Kota Sukabumi. Perjalanan yang lancar dari Kota Mochi yang memakan waktu  dua jam  tiga muluh menit sudah sampai  Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten.

Penerbangan  jam  9 kala itu,  saya tenang  karena jam penerbangan yang masih  cukup lama, membuat tidak tergesa-gesa. Selain menunggu penerbangan saya pun menanti  tim yang belum berdatangan.

Satu persatu mereka pun berdatangan, selagi menunggu ternyata penerbangan kami ditunda hingga pukul  12 Siang. Penundaan  penerbangan, disebabkan karena  pesawat yang tergelincir kemarin belum dapat dievakuasi yang menyebabkan bandara Supadio ditutup sementara.

5 jam kami menunggu, akhirnya kami pun dan tiba di  Bandara Sudapio, Pontianak pukul  14:00 WIB dengan suasana Kalimantan yang baru saja reda dari hujan disambut mentari. Perjalanan pun belum berakhir, harus menempuh  sekitar 4 jam menuju kota Hong Kong Van Borneo tersebut.

Di tengah perjalanan, kami memutuskan untuk  mengisi perut. Karena sudah  lapar kami pun memilih yang  tak jauh dari Bandara,  kami pilih  Rumah Makan Nasi Padang,  uniknya Nasi Padang disini  makan ambil sendiri  alias Perasmanan.

Usai makan, perjalanan menuju  kota Singkawang pun  dilanjut, suasana  yang kental dengan  Kalimantan yang banyak sungai. Selama Perjalananpun diiringi mentari yang akan digantikan oleh sang bulan. Langit pun mulai gelap, lampion-lampion yang mengiahasi jalanan mulai  menampakan cahaya merahnya yang khas.

Perjalanan yang tak henti buat kami sudah merasa Lelah, kami pun sepakat  untuk beristirahat di Kawasan yang berjejer menyunguhkan kopi dan cemilan khas setempat. Melepas Lelah kami  memesan  Kopi  dan  Pengkong.

Setelah kami beristirahat, kami semua kembali melanjutkan perjalanan kurang lebih  sekitar  satu jam dari tempat kami istirahat. Kendaraan  yang mengantarkan kami, kembali bergegas untuk mengaspal jalanan  borneo. Hal yang sama setiap jalan banyak di penuhi lampion dan vihara yang sedang bersiap untuk  ikut serta dalam Cap Go Meh  2019.

Akhirnya kami pun sampai ke Hotel, yang akan kita gunakan untuk beristirahat. Waktu sudah menunjukan pukul  21:10 kala itu.  Kami pun berkemas memindahkan barang, dan bersiap untuk istirahat ditemani  suasana yang sunyi, suara ombak yang sangat pelan sekali namun sang bulan sangat menerangi kami saat itu.

Hari pun kini berganti, cuaca yang sangat cerah dengan laut yang tenang menambah kehangatan di tanah borneo. Hari kedua kami di Kalimantan barat akan menuju Kawasan Kota Singkawang yang dari tempat kami menginap hanya sekitar  20 menit perjalanan.

Puncak Cap Go Meh masih esok, namun kami akan kesana karena hari ini akan ada ritual  cuci jalan.  Ritual tersebut bertujuan untuk meminta acara esok berjalan dengan lancar. Replika naga dan Tatung akan berdatangan ke  Vihara Tri Dharma Bumi Raya untuk meminta doa.

Wisatawan nusantara dan manca negara pun sudah  berdatangan, untuk menyaksikan ritual tersebut  hari semakin siang wisatawan semakin berdatangan.  Terdengar  Azan berkumandang dari masjid yang berjarak 200m dari  Vihara. Ritual pun terlihat dihentikan sementara menghormati  umat muslim yang akan menjalankan ibadah salat zuhur.

Setelah menunaikan ibadah solat, matahari yang sangat terik saat  memotret membuat kami merasa haus dan lapar. Kami pun  mengunjungi stand kuliner dekat  Vihara. Tempatnya pun ramai penuh dengan warna merah,  dipenuhi banyak wisatawan saat itu karena jam makan siang kala itu.

Makanan distand kuliner pun beragam, ada makanan ringan, berat hingga snack  khas Singkawang. Makan disini jangan takut  salah makan karena sangat jelas dari pandangan mata sudah di tulis makanan Kawasan halal, vegetarian hingga tidak halal.

Suara pengorengan,  harum bumbu masak yang tercium hidung menambah gairah kami makan. Kala itu saya makan kwe tiau agak unik sih disini ternyata pakai daun katuk untuk sayuran kwe tiau. Rasanya gk terlalu jauh dengan yang biasa sebenarnya. Selain itu saya melihat rujak yang bedanya  dilengkapi  ebi (udang-udang kecil).

Usai  kami  menikmati makanan dikawasan kuliner, kami kembali ke dekat  Vihara sambil menunggu kami pun meminum Es Asam yang berisikan tiga jeruk  dengan salah satu jeruk (namong) yang sudah di simpan selama berbulan bulan dalam toples. Yang membuat kesegaran bagi tubuh ditengah  terikanya sang mentari.

Langkah kaki pun berlanjut, kini kami akan pergi ketempat benda cagar budaya yakni rumah marga Tjhia. rumah tersebut sama tidak jauh dengan vihara yang dijadikan  tempat ritual cuci jalan. Saat memasuki Kawasan tersebut tampak pandangan mata,  rumah khas china yang  dulu seperti di film china dengan ruang kosong di tengah.

Matahari mulai sudah turun,  tak seterik sebelumnya namun suasana semakin ramai. Tetapi  kami memutuskan untuk  kembali ke hotel karena kami akan makam malam bersama Menteri Pariwasata Arief Yahya dan sejumlah pejabat  Pemerintah Kota Singkawang.

Usai  makan malam, kami semua melakukan  persiapan untuk puncak cap go meh dari segala Teknis berangkat hingga saat acara sampai selesai. Kami putuskan saat itu akan mengetuk pintu  kamar pukul tiga pagi, untuk menghindari macet, dan susah parkir karena  diperkirakan akan banyak kendaran melintas dan  ribuan orang memadati Kawasan yang akan dilintaasi pawai Cap Go Meh.

Waktu menunjukan sudah pukul  sebelas malam,  kami semua pun  bergegas untuk  beristirahat karena besok akan berangkat dini hari.  Alarm kami atur di posisi pukul tiga.lampu kamar pun dimatikan, mata pun sudah tak kuasa menahan kantuk.

Kring-kring alarm pun berbunyi, kami  semua bergegas untuk siap berangkat menuju lokasi.dini hari yang ramai, banyak orang yang bersiap untuk  ikut serta meramaikan Cap  Go meh  2019. Azan subuh berkumandang dan aktivitas divihara dan di Masjid tetap lancar semuanya aman.

Langit pun sudah mulai tampak  biru,  wisatawan dan  masyarakat mulai berdatangan ke vihara. Sambil menunggu pagi, kami menikmati segelas susu hangat untuk menghangatkan tubuh kami. Suara khas arak-arakan dan  peserta pawai sudah terdengar dan tampak dalam mata,  menuju tempat persiapan untuk pawai.

Pagi yang dingin sudah  menghangat, oleh matahari yang bersinar kuat. Wisatawan pun mulai memadati  Kawasan pawai  dan podium tempat menonton Cap Go Meh. Kami pun bersiap untuk menuju tempat pembukaan,  suasana yang mulai tampak padat dan ramai petanda acara akan segera di mulai. Pukul  8 pagi,  acara resmi dibuka, di awali dengan  12 replika naga pawai dimulai dan diikuti seribuan tatung yang akan berjalan .dimulai dari perempatan Jalan Diponegoro, Firdaus, Gst Sulung Lelanang

Pawati Tatung selanjutnya melintasi Jalan Budi Utomo, ke Jalan Setia Budi lalu melintas di depan Vihara Tri Dharma Bumi raya. Selanjutnya peserta Pawai Tatung finish di Jalan Niaga.

Saya pun  terus berjalan mengikuti,dan memotret ditempat yang saya sudah tentukan sebelumnya. Seperti tempat  tingi, dan yang tidak banyak kabel dan lainnya. Pawai pun terus berjalan lancar para tatung terus berjalan, hari semakin siang wisatawan tampak semakin banyak. Pawai Cap Go Meh pun berkahir di tengah hari yakni pukul 12 siang, ribuan tatung pun mulai membubarkan diri dan bersiap untuk kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *