Nostalgia Bersama Kue Ali

Kue Ali ini sangat tidak asing lagi bagi ku, selain memang sebagai masyarakat asli Cisaat, Aku pun memiliki sebuah kisah haru dibaliknya. Berapa silam, ketika Nenek masih ada, tanpa perlu mencari kue tersebut di pasaran, beliau sering kali membuatkannya untuk ku. Teksturnya yang renyah dan secangkir teh tawar yang hangat semakin memberikan sensasi rasa yang nikmat. Namun kebiasaan itu tak lagi ada, pasca mendiang nenek sejak puluhan purnama lalu. Hal ini semakin memberikan kerinduan tersendiri akan kue Ali, terlebih buatan tangan nenek kala itu.

Salah satu Kuliner tradisi Cisaat ini pun sering menjadi buah tangan oleh para wisatawan. Mudah saja untuk menemukannya, kue ini dapat dijumpai di pasar-pasar ataupun di kawasan Cikaray, Cisaat. Harga dan ukurannya pun beragam dan sangat terjangkau bagi para wisatawan, mulai dari Rp300,00 hingga Rp1000,00 untuk satu kuenya.

Selasa (5/3) saya  mengunjungi Kawasan  kue ali,  karena sudah lama  tak mencicip  kue berbentuk cincin tersebut. Selain itu  karena ingin  bernostalgia juga, saat saya kecil  kue ali ini tak asing bagiku. Nenek sering membuat kue tersebut sendiri, jadi dulu kalau sangat mudah ketika  ingin kue ali tinggal ke rumah nenek.

Namun  setelah nenek meninggalkan kami, Kue yang nikmat dan renyah  saat digigit dirtemani  secangkir teh tawar hangat. Sudah jarang ditemui dirumah, sehingga memberikan kerinduan akan kue ali dan sang nenek yang sudah meninggalkan kami.

TRintikan hujan, angin yang teramat dingin, serta suara petir yang menggelegar malam ini, sangat cocok untuk untuk menikmati kue Ali ditemani secangkit teh tawar hangat untuk sekedar mengenang masa kecil bersama nenek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *