Menikmati Kabuli di Kasepuhan Sinarresmi dan Ciptagelar

Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi beberapa 4 Kampung adat, yakni Kasepuhan Sinarresmi, Kasepuhan Ciptamulya, Kasepuhan Ciptagelar dan Kasepuhan Ciptarasa dalam rangka memotret untuk  Treasure Of Sukabumi.

Perjalanan pertama dimulai, di Kasepuhan sinarresmi yang dipimpin Abah Asep Nugraha. Kunjungan  kali ini akan memotret  proses mipit, yakni proses panen pertama di huma. Kami pun , berangkat rabu malam sekitar jam 9.

 Kami pun memutuskan melewati jalan Cikidang, jalan yang  dipenuhi dengan  kebun  sawit dan jalanan yang curam di tengah malam yang dingin.

Tiba-tiba Kendaraan yang kami gunakan lampunya mati mendadak,  Akibatnya kami, harus mencari bengkel di tengah malam sebelum memasuki kawasan  kebun sawit. Akhirnya jarak yang tak jauh, kami menemukan bengkel    yang masih buka.  Akhirnya sesampai dikasepuhan  sekitar pukul 12 malam. 

Langkah kakipun melangkah  menuju imah gede. Tampak  dengan mata ada yang sedang begadang, main kartu. Kami pun mengucapkan salam “ Asallamualaikum” dengan sambil menaiki tanga.  sedikit bercengkrama dan menceritakan perjalana kami,  namun tak lama karena hari sudah dini hari, akhirnya memutuskan untuk  beristirahat karena besok akan bangun pagi untuk  mipit (panen).

Suara  ayam yang membangunkan kami,  pertanda bagi kami untuk  segera bersiap  pergi ke bukit menuju padi huma yang akan dipanen. Suasana pagi yang sejuk dan  hamparan padi  selama perjalanan menuju  tempat panen.

Semua Sudah berkumpul,  kamipun berjalan menyusuri pesawahan menuju tempat dimana akan dilakukan prosesi mipit. Kurang lebih  20 menit perjalanan, akhirnya kami sampai  ketempat  uintuk  mipit. Suara  dog-dog lojor mengiringi proses mipit tersebut.

Usai mipit kami pun berkumpul, dan bersiap makan yang sudah disiapkan. Yakni kami makan nasi kabuli, nasi sebesar aseupan  dengan didalamnya beragam lauk pauk seperti ayam, ikan asing,  sepi,  mie, tahu dan tempe dan lainnya.  semua yang ikut proses mipit, makan Bersama-sama.

Ambupun memanggil kepada kami, “ Hayo die, enggal mam urang saserngan ie aya Kabuli”. Kami pun menghampiri  ambu ke Saung ambu mempersiapkan Kabuli.  dan kamipun semua menikmati Kabuli di atas perbukitan.

Rasa nikmat, makan bersama-sama sehabis manen padi serta ditemani angin yang sangat sejuk diatas perbukitan Menambah sensasi makan Bersama  tersebut. Usai  makan pun semua bergegas kembali,  kami pun  bergegas pulang  karena ada keperluan yang lain dikala itu,  kamipun berpamitan dengan semua.

Selanjutnya  (Rabu 20/3) kami bergegas ke Kasepuhan Ciptagelar.  Perjalanan yang menantang, akses jalan yang naik turun dan  hujan rintik yang menemani selama perjalanan. Kabut pun,  menyelimuti setiap bukit yang sediakala menjadi pemandangan selama perjalanan.

Sesampai disana, seperti biasa kami  menuju imah gede, karena  belum malam. waktu itu kami langsung  menemui abah Ugi, tentunya melewati dapur yang  ternyata  didapur sedang membuat nasi kabuli.

Usai bertemu, saya pun  diam didapur dan berbincang  dengan  yang sedang masak. Ternyata  masak nasi Kabulinya  buat hingga ratusan nasi, masak ini  dalam rangka  syukuran nyimbur.  Ratusan kabuli ini, nantinya akan  dibawa oleh warga yang ikut memasak. Akan dimasak kembali dirumah, setelah itu  dibawa kembali ke imah gede untuk  prosesi syukuran dan makan Bersama.

 Suasana dapur sangat ramai sekali, ramai dengan orang yang memasak dan menunggu bagian  nasi kabuli. Aroma didapur   yang sangat menggoda, menjadikan  rasa ingin cepat menikmati.  Kini terlihat  beberapa warga  membawa  “aseupan” berisikan nasi  dan lauk pauk untuk dibawa kerumah untuk dimasak kembali.

Matahari sudah turun, digantikan dengan  sang bulan.  kabut pun  mulai menyapa warga kasepuhan Ciptagelar, Suhu yang dingin  menambah rasa lapar ini. Waktu menunjukan pukul  9  malam lebih,  terlihat warga mulai merapihkan dan menata  tempat makan untuk selametan dan makan nasi Kabuli  di Imah Gede. Puluhan  nasi kabuli, di bariskan dan siap untuk disantap di tengah cuaca dingin.

Abah  Ugi , selaku kepala kasepuhan  memimpin selametan ini, abah pun memberikan sambutan, dan membacakan doa.  Tak lama namun baca doa tersebut,  kami pun dipersilahkan untuk makan nasi Kabuli.

Kali ini saya makanya ketika ada selametan. Namun  nikmatnya sama dengan  saat makan  nasi Kabuli di Sinarresmi.  karena makan bareng, menjadikan  sensasinya berbeda.

Nasi Kabuli bisa disimbolkan sebagai simbol gotong royong, karena setiap kegiatian kasepuhan dengan gotong royong, di akhiri dengan makan nasi kabuli. nasi kabuli ini pada jaman dahulunya untuk mempermudah saat dibawa, dengan disatukan  sehingga mengurangi  barang bawaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *