Mengenal Pakaian Adat Bangka

Hallo Traveller? beberapa waktu lalu tepatnya 1/4 saya mengunjungi Kupulauan Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Pulau Bangka adalah sebuah pulau yang terletak di sebelah timur Sumatera. Bangka menurut bahasa sehari-hari masyarakat Bangka mengandung arti “Sudah tua” atau “Sangat tua”, sehingga Pulau Bangka dapat diartikan sebagai “Pulau yang sudah tua”. Bila merujuk pada kandungan bahan galian yang terdapat di daerah ini, pulau Bangka banyak mengandung bahan-bahan galian mineral yang tentunya terjadi dari proses alam yang berlaku berjuta-juta tahun. Salah satu contohnya adalah bahan galian timah, oleh karenanya masyarakat menyebutnya dengan sebutan Pulau Bangka.

Kata Bangka juga berasal dari kata “Wangka” yang artinya “Timah”, karena di daerah ini ditemukan bahan galian timah, maka disebut Pulau Timah. Lantaran adanya pergeseran atau bunyi bahasa yang berubah maka masyarakat lebih lekat memanggil pulau ini dengan kata Pulau Bangka atau pulau bertimah. Menurut cerita rakyat, Pulau Bangka tidak mempunyai penduduk asli, semua penduduk adalah pendatang dari suku yang diberi nama suku sekak. Masyarakatnya masih menganut animisme. Kemudian masuk Bangsa Melayu dari daratan Malaka dengan membawa Agama Islam yang kemudian berkembang sampai sekarang. Masuknya Bangsa Melayu tersebut tentu memengaruhi budaya dan adat istiadat masyarakat setempat.

Tampak depan museum Timah di Pangkal Pinang, Kepualauan Bangka

Kedatangan saya ke Bangka ini merupakan kali pertama dalam rangka event Bangka Culture Wafe. Bangka Culture Wafe merupakan salah satu event yang menampilkan kolaborasi budaya dari beberapa negara dan tentunya budaya Indonesia.

Saat tiba di kota Bangka, ada yang menarik yakni pakaian adat bangka yang dikenakan oleh salah satu penari. Saya pun langsung bertanya kepada salah seorang teman yang asli orang Bangka, sambil menunjuk saya bertanya “Itu baju adat bangka ya?”
teman saya pun menjawab “Iya”.

Tak lama saya pun menghampiri penari tersebut disela-sela persiapan menyambut tamu dalam acara pembukaan Bangka Culture Wafe. Berbincang sedikit, tak lama saya pun memintanya untuk berfoto lengkap dengan pakaian adatnya.

Pakaian adat Bangka Belitung berasal dari perpaduan kebudayaan Arab dan juga Tionghoa. Pada mulanya, saudagar Arab yang berdagang di kawasan Bangka Belitung menikah dengan perempuan Tionghoa dan mengenalkan pakaian adat untuk pernikahan yang bercorak Arab dan juga Tionghoa, dikarenakan pakaian tersebut terlihat indah dan juga menarik, maka masyarakat mulai mengenakan pakaian yang sama hanya saja dipadukan dengan corak kebudayaan Bangka Belitung setempat.

Pakaian Adat Bangka untuk wanita disebut “Baju Seting”. Baju Seting adalah baju kurung Bangka Belitung yang berwarna merah dan terbuat dari kain beludru atau kain sutra. Dalam penggunaannya, biasanya baju kurung ini dipadupadankan dengan bawahan berupa Kain Cual.Jika Baju Seting lahir dari perpaduan antar budaya, maka kain cual ini merupakan kain asli dari Bangka Belitung.

Kain cual atau juga sering disebut dengan kain besusur atau kain lasem ini dibuat dengan metode tenun ikat khas daerah Bangka Belitung. Mengapa disebut cual? Karena berasal dari “Celupan Benang Pada Proses Awal”, sejarah mencatat, mulanya hanya benang berwarna putih saja yang disebut cual karena baru sampai pada proses awal, namun seiring dengan perkembangan zaman, masyarakat Bangka menyebut kain cual adalah kain yang seperti sekarang yaitu kain yang sudah sampai pada tahap pewarnaan dan telah siap digunakan, baik untuk acara adat maupun pernikahan.

Pakaian adat tersebut digunakan saat acara-acara besar seperti pada pembukaan Bangka Culture Wafe ini, pakaian adat digunakan untuk menyambut tamu atau yang masyarakat setempat sebut sebagai Tari Persembahan. Pada Tari Persembahan, salah satu penari menggunakan baju berwarna merah dilengkapi dengan kain cula serta membawa kotak yang berisikan kapur dan sirih, kemudian kapur dan sirih tersebut diberikan kepada tamu kehormatan, dan pihak tamu pun wajib mencicipi kapur dan sirih tersebut.

2 tanggapan untuk “Mengenal Pakaian Adat Bangka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *