Mengenal Glow In Nusantara

Penampilan Glow In Nusantara yang ditampilkan Dhea , Wiwi dan Galih di Pantai Tongaci,Bangka

Saat melakukan kunjungan ke Pantai Tongaci Kepualauan Bangka, saya melihat ada hal yang menarik, yakni Glow In Nusantara dalam acara Bangka Culture Wafe. Setelah sebelumnya saya membahas pakaian adat Bangka, kali ini saya akan membahas Glow In Nusantara.


Glow In Nusantara adalah sebuah pertunjukan yang mengangkat eksplorasi dari motif, pola ukir, serta tato dari berbagai wilayah di nusantara. Dalam pertunjukan Glow in Nusantara ini menampilkan perpaduan media seni melukis tubuh, tari kontemporer dan modern. Pola ukir, motif dan tato Indonesia merupakan smbol yang memilki akar makna filosofis tersirat dan pesan mendalam.


Sajian perpaduan penampilan tersebut terdiri dari berbagai macam simbol tradisi seperti unsur gerak yang diambil kisah kehidupan manusia, hewan serta tumbuhan. Hal tersebut sekaligus mengisyaratkan keseimbangan langit, bumi dan pelestarian alam.


Menarik sekali tentunya melihat sebuah pertunjukan yang menggunakan cat glow in the dark dan sinar UV, dalam penampilan tersebut menampilkan tiga penari yakni Dhea, Wiwi dan Galih. Ketiga penari tersebut tampil kurang lebih selama tiga menit dengan iringan pukulan jimbe. Gerakan diawali dengan tarian individu kemudian dilanjutkan dengan kolaborasi ketiga penari tersebut.

Penampilan Glow In Nusantara yang ditampilkan Dhea Fandari , Wiwi dan Galih di Pantai Tongaci,Bangka


Hal ini sangat menarik untuk dibahas, saya pun bertanya kepada Dhea Fandari yang membuat Glow in Nusantara sejak 2017. dia mengatakan ide ini berawal dari cat glow in the dark, kemudian ada niat untuk menjaga dan berpikir bagaimana cara memberikan message dari culture indonesia melalui karya yang dapat disebarluaskan, diingat dan diterapkan untuk masyarakat.


Melalui ide pengembanan konsep Indonesia yang kaya akan motif, pola ukir serta tato nusantara yang memiliki banyak filosofi dan makna itulah yang pada akhirnya menginspirasi untuk membuat Glow in Nusantara.
Penyampaian pesan dari budaya nusantara berupa visual art dan perpaduan gerak tarian kontemporer dipadukan dengan musik modern menjadi sebuah tampilan suguhan perpaduan yang menarik antara kontemporer dan milenial modern.


Dalam pertunjukan tersebut Ada beberapa motif yang ditampilkan, seperti Motif Batik Parang (Jawa) yang memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah, garis diagonal lurus melambangkan penghormatan dan cita-cita, serta kesetiaan kepada nilai yang sebenarnya. Dinamika dalam pola parang ini juga disebut ketangkasan, kewaspadaan dan kontiunintas. Selanjutnya Motif Batik Megamendung motif ini berasal dari Cirebon, Jawa Barat yang merupakan seni batik yang identik. Megamendung sebagai simbol makna trasidental (Ketuhanan), adapun pesan tersirat yaitu kehidupan manusia sebagai sifat yang sabar, tidak mudah marah.


Motif ketiga yakni Motif Tato Mentawai yang berasal Sumatera Barat sebagai simbol yang disnyalir sebagai tato tertua di dunia. Bagi masyarakat Mentawai tato merupakan roh kehidupan dan simbol keseimbangan alam. Salah satu posisi tato adalah untuk menunjukan identitas dan perbedaan status sosial atau profesi.

Sementara Motif Kawung adalah motif tua yang berasal dari tanah Jawa. Motif kawung sendiri ada beberapa makna filosofis diantaranya doa yang baik bagi pemakai motif ini, motif kawung termasuk kedalam beberapa motif larangan keraton, yang mana dulunya hanya boleh digunakan oleh kalangan kerajaan saja.

Penampilan Glow In Nusantara yang ditampilkan Dhea Fandari di Pantai Tongaci,Bangka

Selanjutnya, pola ragam hias Sumatera Utara, karya ini berupa tenunan, tulisan pada kain misalnya batik, songket, ukiran atau pahatan pada kayu batu. Motif lainnya berasal dari Manggarai Barat yaitu
Motif Mata Manuk (Mata Ayam) yang digali dari budaya, adat istiadat, kehidupan sosial dan sistem religi masyarakat lokal.


Dhea dalam penampilan nya mengunakan motif Jawa Tengah yakni Kawung, Parang, Jelamprang Semarangan. Sementara Wiwi menggunakan motif pola Bangka Sepintu Sedulang, selanjutnya Galih menggunakan Motif Kalimantan.

Setelah 2 tahun merintis Glow in Nusantara, Dhea memiliki banyak pengalaman performance yang tak terlupakan. Ia tampil diberbagai pagelaran seperti ndonesia Africa Forum di Bali (IAF) Kemenlu.

Lantaran yang meminta untuk mengisi adalah ibu Retno Marsudi sendiri, selain itu juga berkesempatan tampil di Abayaghiri Sumber Watu Yogyakarta dalam acara Wonderfull Noon Kemenpar, pada saat itu menari langsung di depan Prasasti asli stupa besar 1, ia pun baru mengetahui bahwa stupa itu asli pasca tari tunggal tersebut.

Satu tanggapan untuk “Mengenal Glow In Nusantara

  • April 18, 2019 pada 9:16 am
    Permalink

    Keren man, buricak burinong gitu ya, coba di sukabumi ada seru kayak nya, konsep sama tapi dengan kearifan lokal dan tema berbeda ,,, hmmmm

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *