Cerita di Air Terjun Sentral

Beberapa pekan lalu, saya mengunjungi salah satu air terjun Sentral, Kabandungan di kawasan Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi. Air terjun ini berasal dari kaki gunung Halimun Salak. Saya pun kali pertama mengunjungi tempat ini, saya akan ceritakan pengalaman kunjungan saya ke air terjun sentral tersebut. memotret air terjun, dikejar monyet hingga sandal putus.

Rabu, 22 April saya mengunjungi air terjun menggunakan sepeda motor yang bernama “Jaim” (jalan Impian). Setelah satu jam perjalanan
akhirnya sampai di papan informasi yang menunjukan arah ke air terjun yang bertuliskan “Curug Sentral “dangan panah mengarah ke kanan. Usai melewati perkampungan, ratusan hektar kebun teh yang memanjakan mata sepanjang perjalanan. udara cukup segar dikawasan ini membuat nafas kita segar berada ditubuh ini.

Kendaraan roda dua saya pacu mengikuti petunjuk tersebut, pandangan mata melihat ada aktivitas pengolahan daun teh dengan bangunan yang sudah tua khas peninggalan masa lalu. Saat berjalan sambil melirik-lirik aktvitas pengolahan teh tersebut. tibalah di perkampungan warga, saya pun memakirkan kendaraan roda dua saya di halaman warga.

Ketika tiba saya melemparkan senyum, kepada warga yang berada disana sembari mengatakan “Punten” (Perimisi). kaki pun melangkah berjalan sekitar 10 menit melewati kebun teh. Cuaca sangat cerah saat itu dan baik untuk memotret air terjun tersebut.

Akhirnya setelah berjalan mulai terdengar suara air sungai, artinya bahwa akan sampai ke tempat tujuan. saya pun mulai bersiap untuk memotret. karena tak akan lama lagi akan sampai. Usai sampai dilokasi, saya bersiap memotret, mengamati lingkungan yang ada terlihat ada beberapa kelompok monyet yang berkeliaran dikawasan tersebut.

Setelah siap untuk memotret saya menuju lokasi motret menuju curug, melewati jembatan bambu. Saya pun berhati-hati terhadap barang bawaan saya, takutnya monyet yang ada acak-acak tas saya karena disana saat saya tiba tidak ada seorang pun pengunjung.

Kurang lebih memotret sekitar 15 menit di air terjun pertama, dan situasi pun aman tak ada halangan saat memotret. Kini kaki pun melangkah ke tempat air terjun kedua yang masih sam, sekitar 10 menit berjalan dengan jalan yang naik dan melawati jembatan kayu kembali.

Sesampai disana, pandangan mata debit air terjun tersebut masih tinggi karena akibat hujan yang turun kemarin sore. Artinya harus ekstra hati-hati saat memotret.

Lagi -lagi disinipun saya sendiri, namun ditempat ini saya tak begitu lama, karena hari mulai siang matahari sudah tepat berada di atas kepala. Saya pun kembali ke curug pertama.

Setelah sampai di air terjun pertama, Sebelum pulang ingin memotret dulu kawanan monyet yang berada di sekitar tempat tersebut. Namun saat memotret, terlihat dalam lensa seakan monyet semakin dekat dengan saya dan semakin banyak yang mendekat.

Saya pun mulai ketakutan, mencoba mengusir monyet tersebut. Namun malah semakin dekat dan mereka mengeluarkan taringnya. Saya pun bergegas lari, sandal pun putus dan tertinggal saat lari.

Lari secepat mungkin, sembari teriak tolong-tolong namun tidak ada orang, kaki terus berlari sembari membawa kamera. Hingga atas pos tiket monyet pun berhenti dan saya berhenti.

Nafas pun terengah-engah usai lari dikejrar kawanan monyet tersebut, air putih ditumbler pun sudah habis. usai tersebut mencoba beristirhat mengembalikan bernafas dengan normal.

Kurang lama lima menit setelah istirahat saya pun berjalan menuju tempat tempat parkir untuk pulang. Sesampai disana, saya berbincang dengan warga sekitar. Menceritakan dikejar monyet di air terjun saat akan pulang.

Warga pun mengatakan, memang beberapa orang pun sering dikejar, karena kebiasaan beberapa pengunjung memberikan makanan kepada kawanan monyet disana, jadi setiap pengunjung disana disangka membawa makanan apalagi pada jam makan mereka.

Sebenarnya hal tersebut salah, pengunjung baiknya tidak memberikan makanan apapun kepada mereka. Efeknya seperti sekarang mereka ketergantungan kepada makanan yang diberikan dari pengunjung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *