Eksistensi atau Menikmati

Saat ini perkembangan teknologi terus berkembang dan memberikan dampak termasuk didalamnya yaitu penggunaan media sosial yang banyak digunakan oleh hampir setiap manusia. Saat ini media sosial seakan menjadi kebutuhan bagi masyarakat, terutama kaum muda yang erat kaitannya dengan telepon pintar dalam kehidupannya.

Berdasarkan hasil riset Wearesosial Hootsuite yang dirilis Januari 2019 pengguna media sosial di Indonesia mencapai 150 juta atau sebesar 56% dari total populasi. Jumlah tersebut naik 20% dari survei sebelumnya. Sementara pengguna media sosial mobile (gadget) mencapai 130 juta atau sekitar 48% dari populasi.

Selanjutnya, survey yang dilakukan globalwebindex pada pengguna internet di Indonesia dalam rentang usia 16-64 tahun menunjukkan bahwa ada beberapa platform media sosial yang aktif digunakan oleh masyarakat Indonesia.


Platform tersebut terbagi dalam dua kategori media sosial, yaitu media jejaring sosial dan messenger. Youtube menempati peringkat pertama dengan persentase penggunaan sebesar 43%, di peringkat ke dua Facebook dengan persentase penggunaan sebesar 41%, kemudian Whatsapp dengan persentase penggunaan sebesar 40%, disusul dengan Instgaram diperingkat ke empat dengan angka 38%.

Berdasarkan dua data di atas, lalu muncul pertanyaan di benak saya, apakah dengan tingginya prosentase penggunaan media sosial masyarakat di Indonesia saat ini diikuti dengan sikap bijak para penggunanya?. Tidak dapat dipungkiri, penggunaan media sosial saat ini menimbulkan beberapa dampak.negatif perubahan sosial diantaranya munculnya fenomena gegar budaya (Culture Shock) dan disorganisasi sosial jika tidak digunakan dengan bijak.

Cahyono 2016 dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Media Sosial terhadap Perubahan Sosial Masyarakat Di Indonesia” menyebutkan dengan hadirnya media sosial sebagai teknologi baru, tentu saja hidup manusia juga akan mengalami perubahan dalam hubungan sosial sebagai perubahan terhadap keseimbangan (Equilibrium) hubungan sosial dan segala bentuk perubahan-perubahan kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap dan pola perilaku dalam masyarakat.
Berdasarkan hal tersebut, dalam tulisan ini saya akan menyoroti bagaimana dampak negatif penggunaan media sosial terhadap perubahan sosial masyarakat kita saat ini yaitu menyoal “Eksistensi atau Menikmati”.

Eksistensi atau menikmati yang dimaksud berkenaan dengan penggunaan media sosial, mengenai apa yang di bagikan dan dilakukan oleh para pengguna media sosial di indonesia. Ide tulisan ini muncul, lantaran seringnya melihat lini masa maupun keadaan langsung. Sebagai contoh, banyak pengguna media sosial yang melakukan aktivitas sharing tentang apa saja yang sedang dilakukan, misalnya pada saat makan maupun saat menonton konser.

Fenomena dua hal tersebut yang benar-benar akan saya soroti pada tulisan ini.
Sering sekali di linimasa media sosial saya, saya melihat beberapa pengguna media sosial menggunakan vitur live atau siaran langsung pada saat makan. Fenomena tersebut sangat menggelitik dipikiran saya, apakah mereka benar-benar menikmati bagaimana rasanyanya makanan tersebut jika dilakukan sembari siaran langsung di sosial media mereka?. Selain itu, sebuah kebiasaan yang turut menjadi budaya masyarakat saat ini adalah memotret makanan sebelum dimakan. Hal tersebut saya sering temui langsung, kadang mereka rela menunggu sampai makanan yang dipesan sudah komplit dihadapannya dan barulah difoto.
Sedikit maklum, mungkin hanya untuk sekedar memotret dibeberapa waktu, tapi jika dilakukan sampai makanan tersebut dingin, karena terlalu sibuk mengatur posisi makanan dan mengambil foto beberapa kali, lagi dan lagi muncul pertanyaan apakah masih bisa dikatakan mereka benar-benar menikmati makanan atau justru mementingkan eksistensi di media sosial?

Selanjutnya yang saya soroti adalah etika penonton pada saat menonton konser, hal ini sering terjadi di era tahun smartphone dan sosial media ini. Seperti halnya, aktivitas penonton yang melakukan perekaman menggunakan smartphone mereka saat acara berlangsung, belum lagi penggunaan fitur story di sosial media dengan menampilkan aksi jingkrang-jingkrakan sambil nyanyi di tempat tersebut. Apakah fenomena tersebut masih menunjukkan jika mereka benar-benar menikmatinya?.
Bagi saya, hal tersebut justru menganggu penonton lain.

Menonton konser adalah seuatu hal yang harus benar-benar dinikmati dengan mata dan rasa, tentunya dengan tidak menggangu kenyamanan penonton lain. Seperti yang marak terjadi adalah mereka merekam menggunakan tongsis atau pun tangannya sampai ke atas dengan tingginya hanya untuk merekam apa yang sedang dilihat.

Menurut saya, hal tersebut tidaklah bijak dan hanya memenuhi eksistensi didunia maya saja. Saya saja yang sering melakukan aktivitas memotret acara konser karena tuntutan pekerjaaan pun merasa tidak begitu menikmati konsernya, lalu mengapa banyak diantara kita yang justru niatnya menonton konser namun teramat sibuk merekam dan menggangu penonton lain dengan aktivitas yang berlebihannya?

Beberapa kali memotret konser, saya jumpai ada aturan larangan merekam. Kemudian ada yang bertanya, jika untuk sekedar insta story apakah diperbolehkan? ya sama saja, ketika konteksnya adalah merekam dan menyebarluaskan. Bahkan beberapa artis pun sudah melakukan larangan membawa ponsel saat ke konser dan menyediakan tempat untuk menyimpan. Hal tersebut dilakukan dengan alasan karena ingin penonton yang datang benar-benar menikmati pertunjukan mereka.

Dengan demikian, dengan adanya tulisan ini saya berharap semoga tingkat penggunaan media sosial yang sangat besar prosentasenya di Indonesia pun diikuti dengan sikap bijak para penggunanya dalam bermedia sosial.

Satu tanggapan untuk “Eksistensi atau Menikmati

  • Mei 5, 2019 pada 10:36 am
    Permalink

    menurut saya lebih setuju dgn menikmati konser atau makanan ketimbang mengabadikan dengan memotret atau merekamnya, krn estestikanya akan hilang. Terlebih moment bersama akan kurang terasa krn terlalu sibuk mengabadikan dgn memotret atau merekam dgn dibagikan ke media sosial demi kepentingan pribadi.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *