Romantisme Senja Di Bukit Tumpa

Pekan ini saya berada di Manado, Sulawesi Utara untuk mengikuti Festival Pesona Bunaken 2019 yang di selanggarakan pada 17- 20 Juli 2019. Kali ini saya akan menceritakan salah satu pengalaman saya ketika berada di sana yaitu pada saat menyaksikan matahari terbenam di atas Bukit Tumpa.

Tepat di Kamis lalu, Saya dan rekan-rekan mengunjungi beberapa destinasi wisata salah satunya Bukit Tumpa.
Rasa penasaran pun bergemuruh dan membayangkan bagaimana pesona Bukit Tumpa tersebut, namun untungnya masih ada mbah google hehe, setidaknya bisa sedikit menjawab rasa penasaran saya dan rekan-rekan lainnya.

Bukit Tumpa merupakan salah satu kawasan konservasi hutan lindung dan mulai diperkenalkan sebagai destinasi sport tourism berkat digelarnya berbagai event international olahraga paralayang.

Kami sepakat untuk menikmati pesona Bukit Tumpa pada waktu mentari terbenam. Kami melaju dengan menggunakan kendaraan roda empat, melintasi Jembatan Soekarno hingga Tugu Lilin. Musik Era 90 an pun mengiringi perjalanan sore itu.

Jalanan yang mendaki dengan udara yang sejuk menjadi suguhan panorama yang apik memasuki perbukitan. Perjalanan dari pusat kota Manado memakan waktu sekitar 40 menit. Namun hal tersebut tak membuat kami bosan, lantaran begitu menikmati sajian pemandangan perbukitan yang dipenuhi dengan pepohonan tang rindang.

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, tak lama berselang kami melihat pintu gerbang masuk. Kami ber 7 orang dikenakan biaya 40 ribu rupiah sudah termasuk biaya parkir kendaraan roda empat yang kami tumpangi.

Kami sampai di Bukti Tumpa sekitar pukul 5 sore Waktu Indonesia Tengah (WITA). Kami harus menunggu momen yang indah tepat pada saat mentari terbenam dari Bukit Tumpa, dengan sajian pemandangan Bunaken dan Manado Tua.

Tampak dari kelingan mata, selama kami menunggu tak jarang kami melihat kerumunan burung elang yang sedang asyik mengepakkan sayapnya, seakan menyambut kedangan kami.

Angin kala itu berhembus begitu kencang, memberikan nuansa kesejukan yang begitu memanjakan tubuh, namun sayang sang mentari tak begitu memancarkan sinar senajanya dengan sempurna.

Semilir angin terus menemani kami di sana, mentari pun sudah menunjukkan salam pamitnya pada semesta. Namun, awan datang menutupi kilauan senjanya, rasa was-was menghantui kami karena khawatir tidak akan mendapatkan momennya. Hal tersebut tak menjadikan kami lalu berlalu, kami terus menunggu waktu yang tepat.

Kami dengan setianya menunggu dan tetap yakin penantian ini akan berbuah manis. Di sela penantian, saya pun membunuh waktu dengan berbincang dengan rekan lainnya. Penantian kami pun walhasil tak sia-sia, keyakinan itu akhirnya terbayarkan. Mentari yang kami tunggu benar-benar terbenam dengan sangat menawan.

2 tanggapan untuk “Romantisme Senja Di Bukit Tumpa

    • Agustus 29, 2019 pada 11:17 pm
      Permalink

      enak bener kang, yaaa harus nyoba juga bener kang, yu ah nanti kita nyoba

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *