Penari Kabasaran Perempuan ?

Tari Kabasaran merupakan salah satu tarian yang sering kita lihat dipelbagai acara festival atau karnaval.

Tarian yang identik dengan warna merah ini merupakan tari tradsional Masyarakat Minahasa. Tarian ini diiringi oleh alat musik pukul seperti gong, tambur, atau kolintang yang disebut dengan “Pa‘ Wasalen”, sementara para penarinya disebut “Kawasalan”, yang memiliki arti “Menari dengan meniru gerakan dua ayam jantan yang sedang bertarung”.

Tarian ini ditarikan oleh kaum laki-laki, namun tidak semua laki-laki dapat menjadi penari Kabasaran, konon menurut sejarah, hanya keturunan tertentu yang dapat menjadi seorang penari Kabasaran.

Warna merah dan ekspresi garang dengan mata yang melotot merupakan ciri khas dari tarian ini, tentu dilengkapi dengan senjata dan tombak semakin menguatkan tarian ini sebagai tarian perang.

Namun ada yang berbeda, ketika Saya menyaksikan Pesona Bunaken Festival 2019 lalu, di acara tersebut menyuguhkan penampilan Tari Kabasaran namun ditarikan oleh lima penari perempuan. Hal tersebut tentu mengundang rasa penasaran Saya, mengapa tarian tersebut justru ditarikan oleh sosok perempuan yang tentu sangat bertolak belakang dengan sejarah bagaimana Tari Kabasaran tersebut terbentuk.

Saya pun akhirnya bertanya seusai mereka tampil, mengapa tarian tersebut justru dibawakan oleh sosok perempuan ?. Usut punya usut ternyata sebagai salah satu upaya pelestarian budaya nusantara seperti yang dikatakan oleh Jenifer, sebagai salah satu penari dari Tari Kabasaran tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *